robotik sesler korosuSempat bertanya-tanya nggak sih, kenapa sains dan teknologi Indonesia nggak maju-maju? Parahnya, Indonesia telah tertinggal dalam pengembangan sains, teknologi, serta kualitas pendidikan tinggi. Nggak hanya di tingkat dunia, tetapi juga di lingkup yang lebih kecil seperti ASEAN. Terus apa aja sih yang bikin nggak maju? Chairil mengatakan, pendidikan tinggi menghadapi sejumlah kendala dalam melakukan riset, seperti kenggaksesuaian waktu mengajar dan waktu penelitian, keterbatasan anggaran serta fasilitas riset, dan insentif yang nggak menarik bagi peneliti. Kompetensi guru juga ikut memberikan sumbangsih. Hasil rata-rata uji kompetensi guru pada tahun 2015 hanya 53,02 persen. Untuk calon guru, nilai uji kompetensi lebih rendah lagi, 44 persen kemampuan di bidang kompetensi dan 56,69 di bidang pedagogik. Faktor bahasa rupanya juga nggak dapat disepelekan. Mengutip penelitian Richard Horton, faktor bahasa jadi kendala utama kuranngya suara Indonesia dalam penelitian di tingkat global, khususnya kesehatan dan kedokteran. Sebelum Indonesia merdeka, pernah terdapat kewajiban mmebaca buku sastra sebanyak 25 judul di Algemene Middelbare School (Pendidikan Menengah) Hindia Belanda A dan 15 Judul pada AMS Hindia Belanda B, 15 judul. Namun, sejak 1950an, secara bertahap kewajiban itu hilang. Chairil bercerita pengalamannya saat menghadiri pertemaun antara pelaku usaha dengan universitas ternama di kantor Wakil Presiden BJ Habibie tahun 1998. Usai pertemuan itu, salah seorang dosen mengungkapkan buku ajar yang digunakannnya nggak lagi relevan. Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisis dalam pengembangan iptek. Untuk itu, mewakili AIPI, ia meminta kepada pemerintah untuk membenahi kualitas iptek. Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan pertumbuhan ekonomi diharapakan dapat menaikan daya beli masyarakat terhadap hasil industri dalam negeri. Universitas dapat bekerjasama dengan pelaku industri untuk mendongrak industri dalam negeri. Selain itu, hal paling utama paling utama adalah lingkungan kondusif bagi inovasi nasional.

7 Universitas Terbaik di Batam Beserta Program StudinyaKedua, teknologi untuk pemanfaatannya kalau bisa berasal dari kita sendiri. Ketiga, pendanaan untuk pengelolaannya kalau bisa dari kantong kita sendiri. Keempat, hasilnya harus dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri. Namun jika tanpa adanya dukungan political will dari pemerintah, mimpi kemandirian teknologi tidak akan pernah terwujud, karena sesungguhnya sebaik baik pemimpin adalah seperti yang apa yang disampaikan Maxwell yaitu A leader is one who knows the way, goes the way and shows the way, dan warisan kemiskinan bangsa ini adalah ketidaktahuan pemerintah to shows the way in scope of political will regulation, terutama keberanian Presiden dengan keistimewaan posisinya yang strategis untuk menciptakan rumusan “kebijakan linear” jangka panjang penerapan riset dan inovasi. Pendapat Brinkerhoff tentang beberapa indikator yang bisa dipergunakan untuk mengukur political will pemerintah dapat dijadikan acuan dalam menciptakan rumusan kebijakan teknologi tersebut. Pertama adalah soal inisiatif, darimana saja inisiatif tersebut diusulkan dan sesegera mungkin memetakan dan membentuk tim kerja untuk menyimpulkan berbagai permasalahan yang menghambat kemandirian teknologi Indonesia.

On May 17, 2021, it was announced that the series would be titled Krapopolis. Harmon adapted the hero’s journey, a well-known storytelling framework, for use in television; he calls this technique the “story circle”. He began developing the technique while stuck on a screenplay in the late 1990s, and wanted to codify the storytelling process to unveil the “structure” that powers movies and TV shows. While working on Channel 101, he found that many of the directors he was working with claimed that they were unable to write plots for television shows. This prompted him to simplify Joseph Campbell’s structure of the hero’s journey into a circular eight-step process that would reliably produce coherent stories. The story circle can supposedly be applied to all stories. The circle is divided into eight segments, each representing a stage of the plot: a character is introduced, wants something, enters a new environment, adapts to that environment, achieves their goal, encounters problems as a result of this, leaves that world, and is changed as a result.

Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk bentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M A Pellaupessy, Moh Natsir, dan RM Ng Poerbatjaraka sebagai anggota. Merujuk keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” kepada melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada ronde selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR yaitu rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin disorongkan sebab menyertakan sinar-sinar matahari yang menampakkan pengaruh Jepang. Setelah rancangan terpilih, diskusi intensif selang perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilanjutkan kepada keperluan penyempurnaan rancangan itu. Mereka bertiga sepakat bertindak sebagai wakil pita yang dicengkeram Garuda, yang semula yaitu pita merah putih dijadikan pita putih dengan menambahkan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.Tanggal 8 Februari 1950, rancangan lambang negara yang dibentuk Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno.